Mengenal Gunung Taruwongso, Potensi Wisata di Desa Watubonang
Watubonang, 12 Agustus 2026 — Desa Watubonang, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo, memiliki satu kawasan yang sejak lama dikenal masyarakat luas, yaitu Gunung Taruwongso. Kawasan perbukitan ini bukan sekadar bentang alam di sisi selatan desa, melainkan ruang yang memadukan nilai alam, sejarah, dan religi dalam satu lokasi. Nama Taruwongso berasal dari kata taru yang berarti pohon dan wongso yang berarti buah, yang dimaknai sebagai sebuah gunung kecil yang mampu memberikan banyak hasil bagi masyarakat di sekitarnya.
Puluhan tahun lalu, Gunung Taruwongso merupakan destinasi yang sangat ramai dikunjungi. Berdasarkan catatan Profil Desa Watubonang, pada momen Hari Raya Idul Fitri kawasan ini didatangi puluhan ribu pengunjung selama tiga hari berturut-turut, baik dari wilayah sekitar Kabupaten Sukoharjo maupun dari luar daerah. Ramainya kunjungan tersebut mendorong Pemerintah Desa Watubonang bersama lembaga-lembaga desa untuk mulai mengelola kawasan ini secara terorganisasi pada tahun 1974, salah satunya melalui penjualan karcis masuk selama tiga hari Lebaran.
Hasil pengelolaan tersebut dimanfaatkan untuk kebutuhan administrasi desa, pembangunan kantor desa, hingga pembangunan sarana di lokasi Gunung Taruwongso. Pada masa itu, Gunung Taruwongso menjadi andalan utama Pendapatan Asli Desa (PAD) dan penyumbang dana terbesar bagi kegiatan pemerintahan Desa Watubonang.
Seiring berjalannya waktu, keadaan kawasan wisata ini mengalami perubahan. Jumlah pengunjung pada masa Lebaran terus menurun dari tahun ke tahun, dan penurunan tersebut berdampak langsung pada berkurangnya Pendapatan Asli Desa yang selama ini diandalkan. Kondisi tersebut kemudian diperberat oleh masa pandemi Covid-19, ketika pembatasan aktivitas masyarakat membuat kunjungan wisata terhenti hampir sepenuhnya.
Kondisi Gunung Taruwongso saat ini jauh berbeda dibandingkan masa jayanya. Kawasan yang dahulu dipenuhi pengunjung kini lebih sering lengang, sebagian sarana membutuhkan perawatan, dan vegetasi yang tumbuh tanpa penataan membuat beberapa titik kurang nyaman diakses. Kawasan wisata ini pun sempat disebut terbengkalai sejak masa pandemi.
Terdapat beberapa hal yang dapat dibaca sebagai penyebab menurunnya kunjungan ke Gunung Taruwongso. Selama ini keramaian kawasan wisata sangat bergantung pada satu momen, yaitu tiga hari Hari Raya Idul Fitri, sehingga ketika tradisi kunjungan Lebaran melemah tidak ada agenda lain yang menopang kunjungan sepanjang tahun. Terhentinya aktivitas wisata pada masa pandemi juga memutus kebiasaan berkunjung sekaligus menghentikan pemasukan yang biasanya digunakan untuk merawat lokasi. Selain itu, keterbatasan dalam pengelolaan, perawatan sarana, serta promosi yang berkelanjutan membuat Gunung Taruwongso kurang dikenal generasi baru, terutama pada masa ketika calon wisatawan banyak mencari informasi melalui media digital.
Meskipun demikian, potensi yang dimiliki Gunung Taruwongso sesungguhnya tidak hilang. Dari puncak bukit, pengunjung dapat menikmati panorama hamparan sawah, permukiman warga, hingga deretan pegunungan di kejauhan, bahkan Gunung Merapi dan Gunung Merbabu pada saat cuaca cerah. Kawasan ini juga memiliki nilai wisata religi dan sejarah melalui keberadaan makam Pangeran Banjaransari atau Ki Ageng Banjaransari di lereng sebelah timur, yang menurut cerita sesepuh desa merupakan putra ke-34 Prabu Brawijaya V dari Majapahit dan pada masa kecilnya bernama Raden Joko Balaro. Kompleks makam tersebut dikenal masyarakat sebagai Makam Gedong Taruwongso.
Selain itu, di kawasan Gunung Taruwongso terdapat Sendang Puruso yang lebih dikenal dengan nama Sendang Kopo di lereng sebelah utara, serta Watu Manten berupa sepasang batu unik yang menjadi salah satu titik favorit pengunjung. Nilai sejarah kawasan ini juga diperkuat oleh jejak perjuangan bangsa, karena pada masa Agresi Militer Belanda II wilayah di sekitar Gunung Taruwongso menjadi tempat pengungsian sejumlah lembaga pemerintahan, di antaranya Pemerintahan Kabupaten Sukoharjo dan Kementerian Agama Pusat di Dukuh Ngadirejo, serta Karesidenan Surakarta di Dukuh Watulumbung.
Dari sisi aksesibilitas, kawasan ini tergolong mudah dijangkau, yaitu sekitar 13 kilometer dari pusat Kota Sukoharjo dengan waktu tempuh kurang lebih 20 menit menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Potensi wisata tersebut juga berpeluang diperkuat oleh produk UMKM warga Desa Watubonang yang pemasarannya telah menjangkau luar kota, sehingga dapat dikembangkan menjadi produk oleh-oleh khas apabila kawasan wisata kembali hidup.
Semangat untuk menghidupkan kembali Gunung Taruwongso masih kuat di tengah masyarakat. Hal tersebut tercermin dari kegiatan bersih-bersih kawasan wisata Gunung Taruwongso yang dilaksanakan pada Jumat, 10 Juli 2026, dan melibatkan berbagai unsur masyarakat serta instansi, mulai dari Pemerintah Desa Watubonang, mahasiswa, pelajar, relawan, hingga aparat. Kegiatan tersebut menjadi langkah nyata dalam mendukung upaya revitalisasi salah satu destinasi wisata yang menjadi kebanggaan Desa Watubonang.
Ke depan, masyarakat berharap kawasan Gunung Taruwongso dapat ditata dan dirawat secara berkelanjutan sehingga kembali nyaman dikunjungi, didukung promosi yang konsisten melalui media sosial dan website desa agar cerita sejarah serta pesona alamnya dikenal lebih luas. Masyarakat juga berharap adanya agenda kegiatan yang tidak hanya terpusat pada momen Lebaran, sehingga kunjungan dapat menyebar sepanjang tahun.
Harapan lain yang tidak kalah penting adalah agar kebangkitan Gunung Taruwongso membawa dampak ekonomi yang dirasakan langsung oleh warga, melalui bergeraknya warung dan UMKM lokal serta keterlibatan generasi muda dalam pengelolaan kawasan wisata. Sinergi antara pemerintah desa, lembaga kemasyarakatan, tokoh masyarakat, dan seluruh warga menjadi bagian penting dalam mewujudkan hal tersebut.
Sebagaimana arti namanya, yaitu pohon besar dengan buah yang banyak, Gunung Taruwongso masih menyimpan potensi yang dapat dinikmati bersama. Semoga potensi wisata alam, sejarah, dan religi yang dimiliki Desa Watubonang ini dapat terus dikembangkan dan dilestarikan sebagai warisan sekaligus sumber manfaat bagi masyarakat pada masa mendatang.